Pacitan,- Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya serba instan, sebuah ritual budaya lokal di Pacitan justru mengajak masyarakat untuk melambat sejenak, menoleh ke belakang, dan menyentuh kembali jejak peradaban leluhur. Ritual budaya Pasar Beling Song Meri menjadi ruang hidup bagi memori kolektif tentang bagaimana nenek moyang membangun sistem sosial, ekonomi, dan kuliner tradisional.
Kegiatan unik ini tak hanya menyedot perhatian masyarakat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, yang hadir langsung menyaksikan prosesi tersebut. Ia mengaku terpesona dengan konsep transaksi yang diterapkan, jauh dari sentuhan uang tunai maupun teknologi digital.
Di Pasar Beling, pengunjung tidak bertransaksi menggunakan uang. Sebagai gantinya, mereka menukar uang tunai dengan koin kaca yang disediakan panitia. Koin-koin itulah yang kemudian digunakan sebagai alat tukar dalam sistem barter antara penjual dan pembeli.
“Terasa seperti kembali ke zaman nenek moyang dulu, ketika masyarakat belum mengenal uang sebagai alat tukar,” ujar AKBP Ayub, Senin (26/1/2026).
Lebih dari sekadar atraksi budaya, Pasar Beling Song Meri menyimpan nilai edukasi yang kuat. Tradisi ini menjadi media pembelajaran kontekstual, terutama bagi generasi muda, tentang bagaimana masyarakat masa lalu membangun interaksi ekonomi berbasis kepercayaan, kebersamaan, dan kearifan lokal.
Kapolres menilai, Pacitan melalui kegiatan ini telah berhasil meletakkan fondasi sejarah baru, sebuah warisan nilai yang kelak dapat dirawat dan dikembangkan oleh generasi masa depan.
Nilai budaya Pasar Beling semakin kuat dengan kehadiran beragam kuliner tradisional yang disajikan. Di tengah dominasi makanan modern dan produk instan, pasar ini justru menghadirkan olahan pangan lokal yang autentik, sarat filosofi, dan belum tentu bisa dijumpai di daerah lain.
“Generasi muda diberikan edukasi dan pemahaman bahwa di balik maraknya kuliner modern, Pacitan sejatinya memiliki olahan makanan tradisional yang cita rasanya tidak kalah dengan panganan masa kini,” jelasnya.
Melalui Pasar Beling Song Meri, budaya tidak sekadar dipamerkan, tetapi dihidupkan kembali. Ritual ini menjadi bukti bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang, melainkan identitas yang relevan untuk menjawab tantangan zaman, mengajarkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kebanggaan terhadap warisan lokal.
Pacitan pun menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu harus meninggalkan masa lalu. Justru dari akar budaya yang kuat, masa depan dapat tumbuh dengan lebih berkarakter.

0 Komentar