Menjaga Harmoni Ronthek Gugah Sahur di Pacitan. Kapolres Ayub: Peran Polisi Merawat Tradisi, Menenangkan Ramadhan


  Pacitan,-Bulan Suci Ramadhan selalu membawa denyut kehidupan yang khas di Kabupaten Pacitan. Di antara sunyinya malam dan sejuknya udara pesisir selatan, denting bambu Ronthek Gugah Sahur menjadi penanda waktu sahur yang sarat makna budaya.

Tahun ini, Ramadhan menjadi momentum tersendiri bagi Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, yang untuk pertama kalinya mengawal langsung dinamika tradisi tersebut sejak dirinya dikukuhkan sebagai pimpinan kepolisian di wilayah berjuluk Kota 1001 Goa itu.

Ronthek Gugah Sahur bukan sekadar bunyi-bunyian untuk membangunkan warga. Tradisi ini telah hidup secara turun-temurun, menjadi ruang ekspresi seni, solidaritas sosial, sekaligus identitas kultural masyarakat Pacitan. Bahkan, dalam perkembangannya, ronthek telah dikemas sebagai event budaya yang menarik perhatian hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Namun di balik kekayaan nilai budaya tersebut, terdapat tantangan sosial yang tidak bisa diabaikan. Antusiasme kelompok-kelompok ronthek yang tinggi, jika tidak dikelola dengan baik, kerap memicu gesekan antarkelompok. Konflik horizontal, meski tidak selalu besar, berpotensi mengganggu ketenangan masyarakat serta kekhusyukan ibadah Ramadhan.

Di sinilah peran kepolisian menjadi sangat strategis. Bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial dan pelindung kearifan lokal.

“Kami akan tetap hadir di tengah masyarakat untuk memberikan perlindungan dan jaminan keamanan, terlebih saat bulan suci Ramadhan berlangsung,” ujar AKBP Ayub Diponegoro Azhar, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, budaya lokal seperti ronthek tidak boleh ditinggalkan apalagi dimatikan oleh arus modernisasi. Tradisi justru harus dirawat, di-uri-uri, dan diarahkan agar tetap hidup selaras dengan nilai ketertiban dan kebersamaan.

“Budaya yang dilatari kearifan lokal memang tidak bisa ditinggalkan. Ia harus terus dirawat agar tidak punah oleh zaman. Namun saya meminta agar kegiatan ronthek dilaksanakan dengan guyub rukun, tanpa pertikaian, serta tetap menjaga Pacitan agar aman dan damai,” tegasnya.

Pendekatan ini mencerminkan paradigma kepolisian yang lebih humanis dan edukatif. Polisi tidak datang untuk membatasi ruang budaya, melainkan memastikan bahwa ekspresi tradisi berjalan seiring dengan rasa aman, saling menghormati, dan kesadaran sosial.

Keamanan bukan dipahami sebagai pembatas, melainkan sebagai prasyarat agar budaya dan ibadah dapat tumbuh bersama.

Bagi masyarakat Pacitan, Ramadhan idealnya menjadi ruang kontemplasi dan penguatan nilai-nilai luhur, kebersamaan, toleransi, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

Ronthek Gugah Sahur, jika dijalankan dengan semangat persaudaraan, justru dapat menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus simbol kedamaian sosial.

Dengan kolaborasi antara masyarakat, kelompok seni, tokoh adat, dan aparat keamanan, Pacitan diharapkan mampu menghadirkan Ramadhan yang tidak hanya meriah secara budaya, tetapi juga teduh secara spiritual.

Posting Komentar

0 Komentar